Archive | Januari 2014

Losari Jadi Percontohan Tata Kelolah Pesisir

MAKASSAR,17 JANUARI 2014 Reklamasi dan penataan pantai losari Makassar disebut bakal jadi percontohan tata kelolah pesisir pantai nasional. Hal ini di ungkapkan Direktorat Jendral kementrian kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil, Sudirman Saad pada dialog interaktif/roun table pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil kota Makassar di Warkop Bro Aco.

Sudirman mengatakan,salah satu cikal bakal di bentuknya UU No 27 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terinspirasi dari reaklamasi berbasis mitigasi bencana yang di lakukan di pantai losari. “Anjungan pantai losari kita rancang 2005 bersama pak ILham dan pak Dani sebagai percontohan dan ini kemudian menjadi rujukan undang-undang pesisir yang di resmikan 2007”.

JENAZAH KORBAN BANJIR MANADO TIBA DI MAKASSAR

MAKASSAR,16 JANUARI 2014 Korban banjir manado, yang merupakan warga kota Makassar yakni sidi mustikasyah (41 tahun) yang juga merupakan manager bisnis pengadaian yang bertugas di manado, akhirnya tiba di rumah duka, jalan prof basalamah, eks racing center, B4 no 7, Makassar.

Jenazah di terbangkan dengan pesawat lion air JT 733 pukul 11.35 wita. Warga Makassar yang menjadi korban banjir ini, kesehariannya bertugas sebagai manager bisnis pengadaian di manado, Sulawesi utara. Didi sapaan akrab korban tewas akibat banjir di duga terseret arus air saat menyelamatkan anak dan istrinya di manado yang melihat rumahnya terendam banjir, namun nahas korban bersama sopirnya tewas terseret arus.

Hingga saat ini isak tangis keluarga korban menyelimuti rumah duka, anak dan istrinya terus meratapi kepergian Almarhum Sidi Mustikasyah. Usai di sholatkan jenazah putra ke tiga dari lima bersaudara ini akan di makamkan di samping kompleks pemakaman Syekh Yunus, sungguminasa,Gowa.

HUJAN DAN ANGIN, REKLAME TUMBANG DIJALANAN

MAKASSAR,15 JANUARI 2014 Sejumlah reklame berukuran besar ambruk dijalan perintis kemerdekaan di VII Makassar, akibat angin kncang dan hujan yang terjadi (dini hari) mengguyur kota Makassar. Reklame berukuran besar dan yang terbuat dari besi tumbang di depan pertokoan jalan perintis kemerdekaan kilometer VII. Selain itu beberapa baliho caleg juga tumbang diterpa hujan dan angin kencang.

Hingga berita ini didapatkan, reklame dan baliho caleg yang tumbang dijalanan belum juga dibersihkan oleh petugas yang berwajib.

RUSAKNYA INFRASTRUKTUR DI KOTA MAKASSAR (JALAN)

Makassar, 14 Januari 2014.- Kerusakan jalan di beberapa kota Makassar kian menjadi masalah serius yang patut disoroti. Seperti halnya di Jalan A.P Pettarani yang hingga kini masih terlihat adanya kerusakan yang dinilai tidak layak dalam proses aktivitas umum transportasi.  Kerusakan ini kian diperparah dengan kemacetan lalu lintas akibat dampak daripada kondisi jalan yang dinilai buruk tersebut. Kondisi lengan di karenakan sedikitnya volume kendaraan yang mengakses jalan tersebut, mengakibatkan kemacetan dimana-mana, karena salah satu factor kemacetan di kota Makassar adalah kondisi jalan yang sudak tidak layak digunakan.

Dinas pekerjaan umum (DPU) kota Makassar dalam hal ini merupakan instansi yang bertanggung jawab atas kondisi tersebut, harus merespon hal ini dengan tidak sebelah mata. Sebab perencanaan dan pembangunan proyek fasilitas umum merupakan kewajiban yang tak bisa disampingkan begitu saja, apalagi mencakup perawatan. Kasus diatas merupakan satu dari banyaknya kelalaian pemerintah dalam hal ini DPU terhadap perawatan fasilitas umum terleih pada di jalan A.P. Pettarani. Semoga hal ini tidak terjadi di berbagai tempat lainnya da dimasa yang akan datang.

SEKO BUMI SAWERIGADING

Kata “seko” yang berati “sahabat”– dipakai menamai daerah dengan penduduknya (disebut To Seko) di dataran tinggi di pedalaman Kabupaten Luwu (Utara), dari mana sungai-sungai Uro dan Betue, mengalir ke arah Barat ke Sungai Karama di Kabupaten Mamuju, yang akhirnya bermuara di Selat Makassar. Masyarakat asli yang terdiri atas 3 kelompok masyarakat (Seko Lemo, Seko Tengah, dan Seko Padang) hidup dari mata pencaharian pokok sebagai petani dengan mengerjakan sawah dan ladang secara tradisional. Sudah lama penduduk menanam kopi yang cukup berhasil, dan belakangan dicoba tanaman lain seperti cengkeh dan kakao.
Daerah Seko terkenal pula sebagai penghasil ternak kerbau, yang dibiarkan hidup berkelompok setengah liar di padang rumput (pasang). Ada juga yang memelihara kuda sebagai kuda tunggangan dan kuda beban. Secara tradisional penduduk memelihara ayam dan juga beberapa jenis ikan air tawar untuk dikonsumsi sendiri. Yang tidak beragama Islam memelihara babi, Seni-budaya masyarakat Seko beragam mengikuti ketiga sub-etnisnya. Pada pesta-pesta panen, peringatan proklamasi, dan perayaan Natal/Tahun Baru digelar pesta rakyat yang meriah.
-geografis:Kali ini yang menjadi lokasi pilihan adalah kecamatan Seko, kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Salah satu gambaran daerah terisolir di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun 1945. Walaupun daerah terisolir, namun kecamatan Seko mempunyai kekayaan sumber daya alam yang berlimpah dan dianugerahi pemandangan yang super super indah.Kondisi geografis yang berbukit bukit hijau layaknya sebuah lukisan yang sempurna, hamparan sawah yang luas, dan sungai yang mengalir jernih adalah karunia tak terhingga dari sang maha pencipta. Namun kesempurnaan itu tak didukung oleh sarana prasarana yang memadai, jarak ke kota kabupaten lebih dari 120 km, dan akses jalan kesana sama sekalli belum dibangun, hanya ada jalan tanah yang bahkan susah dilewati motor trail atau mobil double gardan sekalipun, tak heran jika masyarakatnya masih memilih menggunakan kuda sebagai alat transportasi dan system barter pun masih sering dijumpai.

-penduduk: Sampai dengan tahun 2007, penduduk Kecamatan Seko berjumlah 12.405 orang, terdiri dari 6.269 orang laki-laki dan 6.244 orang perempuan. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penduduk kecamatan ini mengalami pertumbuhan sebesar -0,86 persen. Pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Desa Marante (14,19 persen), sedangkan pertumbuhan penduduk terendah terjadi di Desa Hoyane (-0,05 persen). Dibandingkan dengan luas wilayahnya, jumlah penduduk Kecamatan Seko masih sangat sedikit. Secara rata-rata setiap kilometer persegi luas wilayah di kecamatan ini hanya didiami oleh 6 orang. Bahkan di Desa Padang Raya kepadatan penduduknya hanya 2 orang per Km2.

-kesehatan: Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas kesehatan diharapkan dapat mempertinggi derajat kesehatan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas kehidupannya Letaknya yang berbukit-bukit dan sulit dijangkau merupakan salah satu penyebab masih terbatasnya sarana kesehatan di Kecamatan Seko. Dari 12 desa yang ada, hanya terdapat 1 unit Puskesmas di Desa Padang Balua dan 5 unit Puskesmas Pembantu. Sementara itu Polindes terdapat di Desa Malimongan (1 unit). Keterbatasan sarana kesehatan juga disertai oleh keterbatasan jumlah tenaga kesehatan. Di Kecamatan Seko, pelayanan kesehatan hanya dilakukan oleh 3 orang dokter, 6 orang bidan dan 5 orang bidan desa.

-pendidikan: Salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan penduduk dapat ditempuh melalui penyediaan sarana dan fasilitas pendidikan. Sampai dengan tahun 2007, fasilitas pendidikan di Kecamatan Seko masih sangat terbatas. Di kecamatan ini hanya terdapat 1 unit TK, 23 unit SD, 5 unit SLTP, dan 1 unit SLTA. Pada tahun yang sama, rasio murid guru untuk tingkat pendidikan TK, SD, SLTP dan SLTA masing-masing adalah 11, 16, 11 dan 9. Meskipun belum ada ukuran yang ideal mengenai rasio murid guru, akan tetapi semakin kecil angka rasio murid guru diharapkan semakin baik proses belajar mengajar karena guru dapat dengan mudah memantau aktivitas murid yang diajar.

-agama: Tempat ibadah sangat diperlukan untuk melakukan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Di Kecamatan Seko terdapat 11 buah Masjid yang tersebar di 7 desa dan 62 buah Gereja yang tersebar di seluruh desa.

-transportasi dan komunikasi: Kondisi fasilitas transportasi dan komunikasi di Kecamatan Seko masih sangat terbatas. Di kecamatan terdapat 9 wartel yang hanya tersebar di 4 desa, yaitu Desa Wono, Tanama Kaleang, Padang Raya, dan Padang Balua. Selain itu masih belum terdapat layanan pos yang menjangkau kecamatan ini. Jalan yang menghubungkan antar desa maupun jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Seko dengan kecamatan lainnya masih berupa jalan tanah yang sulit dilalui kendaraan bermotor.